Skip to main content

merenung kembali...

PUISI KEHIDUPAN
          karya: Chairil Anwar
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku
Karena ibadahku masih pas-pasan
Kuraba dahiku
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah....
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah....
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah

Comments

Popular posts from this blog

He

he, he is good who always helps me he is care who always know me so well he is faithful who always with me he is smart who teach me good things

Kembalikan Keluarga sebagai Surga Anak (Opini)

halo selamat malam! bagaimana kabarnya? sudah pada mudik lebaran? saya, Naren, mengucapkan mohon maaf lahir dan batin ya! semoga puasa yang kita lalui mendapatkan keberkahan-Nya selalu, aamiin. sekarang saya akan memberikan balasan terhadap opini yang ditulis di koran Jawa Pos, Rabu 12 April 2017, halaman 4 kolom 3 dengan judul “ Kembalikan Keluarga sebagai Surga bagi Anak ” oleh Fathur Rozi. http://www.jawapos.com/read/2017/04/12/122902/kembalikan-keluarga-sebagai-surga-bagi-anak Tulisan opini tersebut membahas mengenai kondisi anak-anak dan remaja yang saat ini semakin memprihatinkan. Mereka sangat bergantung kepada teknologi, sehingga kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka juga memiliki tingkat religiusitas yang rendah sehingga tidak mengetahui bahwa sebagian dari tindakan yang mereka lakukan merupakan sesuatu yang salah. Hal tersebut terjadi karena kurang maksimalnya peran orang tua sebagai agen sosialisasi dalam keluarga. Saya disini berbicara sebagai mahasiswa...